Skema Kerjasama Dan Bagi Hasil Bisnis Properti

Skema Kerjasama dan Bagi Hasil Bisnis Properti – Di manapun, properti akan selalu menjadi barang rebutan, pasalnya tanah atau lahan itu tidak sanggup diperbarui, itu juga yang menyebabkan harga properti selalu naik tajam. Di indonesia sendiri, bisnis properti sangat ramai, baik itu properti rumah, ruko, tanah, atau bangunan kantor. Beberapa tahun terakhir, bisnis properti menjadi ladang duit bagi para developer, makelar, dan pemilik tanah.

Tidak hanya developer properti saja yang mendapat untung banyak dari maraknya bisnis properti, asalkan kalian punya uang atau tanah, kalian juga sanggup mendapat laba dari bisnis ini. Tentu, manfaatnya tidak utuh alasannya yakni akan dibagi-bagi kepada para pihak yang terlibat, inilah kerjasama dalam dunia bisnis properti, semua sanggup ikut untung asalkan punya “nilai” untuk dimanfaatkan bersama.

Developer punya nilai berupa keahlian mengelola, mengembangkan, dan memasarkan properti, sedangkan investor punya nilai berupa modal, tanah, atau keduanya. Nah, investor sendiri sanggup siapa saja asalkan punya modal atau tanah tersebut, sanggup petani, karyawan swasta, pengusaha, atau yang lainnya.

Dengan demikian, kerjasama dalam bisnis properti sanggup dilakukan antara developer dan investor, begitu juga bagi hasil keuntungannya. Lalu, detail kerjasama dan sistem bagi hasil manfaatnya ibarat apa sih? Jawabannya sangat sederhana, silahkan simak ulasannya berikut ini:

Skema Kerjasama dan Bagi Hasil Bisnis Properti Skema Kerjasama dan Bagi Hasil Bisnis Properti

Skema Kerjasama Bisnis Properti
Sebenarnya, untuk berbisnis properti tidak harus berhubungan dengan pihak lain, kau sanggup bisnis sendirian kalau punya segala yang dibutuhkan, ibarat keahlian mengelola dan mengembangkan, punya tanah, dan punya modal. Bisa saja kau lakukan, tapi tentu akan lebih gampang kalau dilakukan bahu-membahu dengan pihak lain, selain itu risiko yang kau tanggung juga akan berkurang.

Nah, dalam kerjasama bisnis properti, berapa banyak pihak yang terlibat terserah anda, tapi kalau rekomendasi saya yakni maksimal tiga pihak, yaitu developer (keahlian), investor pertama (pemilik tanah), dan investor dua (penyuntik modal uang)

Pihak-pihak d atas tidak mengikat, sanggup kalian sesuaikan dengan situasi dan kondisi, contohnya kerjasama dua pihak, developer dan investor (tanah dan modal), atau developer tapi punya modal maka tinggal cari investor tanah saja.

Lalu bagaimana memulai kerjasama tersebut? Saya asumsikan kau yakni seorang developer dan ingin membangun perumahan, kau punya modal 200 juta tapi tetapkan untuk tidak menggunakannya. Dengan begitu, kau perlu mencari dua pihak, yaitu investor tanah dan investor modal. Setelah tahu apa yang dibutuhkan, kemudian kau tinggal mencari investor tersebut.

Tidak gampang untuk mencari investor, apalagi bagi developer gres yang belum mempunyai jaringan dan koneksi yang luas. Untuk pertama kali memulai, kau perlu sedikit kerja keras, sanggup kau mulai dengan mencari di surat kabar atau situs online. Carilah iklan “tanah dijual”, kemudian hubungi dan ajak kerjasama, itu kalau kalian mencari investor tanah. Kalau cari investor modal, maka sebaliknya kau yang pasang iklan, contohnya “dicari investor properti”.



Nah, sehabis kau sanggup investornya, maka kau sudah sanggup memulai project perumahannya. Oh iya, untuk modal uangnya itu, cukup mencari sebesar pembangunan awal saja, contohnya untuk urug, design, pondasi, pemasaran, dan lainnya. Kaprikornus tidak harus mencari investor yang mau memodali pembangunan hingga perumahan jadi, cukup pembangunan awal saja.

Kok bisa? Bisa saja alasannya yakni sehabis pembangunan awal, kau sudah sanggup memasarkan perumahan tersebut, kan sudah ada penampakan pembangunannya, juga design perumahannya, gunakanlah itu untuk memasarkan perumahan.

Setelah dipasarkan, nanti akan ada yang berminat membeli satu atau lebih rumah, nah uang dari DP atau pembayaran pembeli itulah yang akan dipakai untuk menuntaskan pembangunan. Jadi, setiap ada pembeli kemudian melaksanakan pembayaran, gunakan uang tersebut untuk menuntaskan pembangunan rumah yang dibeli, begitu seterusnya.

Sistem Bagi Hasil Bisnis Properti
Dalam bagi hasil laba di bisnis properti, akan sangat dipertimbangkan besar-kecilnya tugas masing-masing pihak. Pihak developer mempunyai tugas yang sangat penting, pihak ini memegang kendali bisnis serta menanggung risiko yang besar. Sedangkan investor tanah juga mempunyai tugas besar, namun menanggung risiko yang kecil alasannya yakni kalau proyek perumahan gagal, tanah masih utuh dan tidak kemana-mana.

Beda lagi dengan pihak investor modal, pihak ini mempunyai tugas yang paling kecil alasannya yakni hanya memodali pembangunan awal saja, mungkin hanya 20% hingga 30% pembangunan, dan investor modal menanggung risiko yang cukup besar namun tidak terlalu besar.

Dilihat dari besar-kecilnya tugas dan risiko, di dunia bisnis properti biasanya bagi hasil laba ditentukan dengan presentase sebesar 50% untuk developer, 40% untuk investor tanah, dan 10% untuk investor modal. Tapi tentu saja, besaran persentase tersebut tidak mutlak, tergantung janji semua pihak dan kondisi di lingkungan.

Tapi yang jelas, saya kira sangat sulit bagi investor modal untuk mendapat bagi hasil lebih dari 20%. Tapi kalau investor tanah sanggup lebih besar hingga 50% kalau harga tanah permeter lebih mahal daripada harga permeter bangunan. Sedangkan untuk developer, saya kira dilihat dari tugas dan risikonya, sangat masuk akal kalau mematok laba minimal 40% apapun kondisinya.


Oke ya, itulah sedikit ulasan perihal denah kerjasama dan bagi hasil bisnis properti. Semoga ulasan di atas bermanfaat dan menambah wawasan bisnis kalian. Jangan lupa share artikel ini juga ya, thanks dan salam sukses untuk kalian semuanya.